Monday, August 17, 2009

MELIHAT KEIKHLASAN KITA

AGAMA mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Karena hanya dengan niat yang terikhlaslah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhlasan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)

Al-Nasafi berkata: “Allah melihat segala amalanmu sama ada banyak atau sedikit serta mengetahui niatmu sama ada riak atau ikhlas. Oleh sebab dengan ini dari satu aspek yang menjadi tontonan mata kasar dan mata hati dan segala yang disebut di dalamnya juga dikembalikan kepada Allah Yang Maha Melihat dan Mengetahui segala apa yang ada di sebalik segala yang nyata”.

Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rosakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan si penerima seperti orang yang membelanjakan hartanya kerana riak kepada manusia, dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat. Maka bandingan orang itu ialah batu licin yang ada tanah di atasnya, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu ditinggalkannya bersih licin. Mereka tidak mendapat sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. [Al-Baqarah, Ayat : 264]

Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan rosak dan hancurlah kehidupannya, baik kehidupan dunia apatah lagi kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.
Allah berfirman yang artinya, “Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)

Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah s.a.w. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah s.a.w)”

Apakah yang dikatakan Ikhlas sebenarnya ?

Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?

Yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”

Maka kita akan bertanya,”Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas”? Sebahagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika kita tersenyum terhadap saudara kita, kita harus ikhlas. Ketika mengunjungi saudara kita, kita harus ikhlas. Ketika meminjamkan saudara kita barang yang dia harapkankan, kita pun harus ikhlas. Tidaklah kita lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, kita tersenyum kepada saudara kita bukan karena agar dia berbuat baik kepada kita, tidak pula kita pinjamkan atau membantu saudara kita agar kelak suatu ketika nanti ketika kita mengharapkan sesuatu maka kita pun akan dibantu olehnya atau tidak pula kerana kita takut dikatakan sebagai orang yang pelik. Maka jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.

Rasulullah s.a.w bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)

Melihat kepada hadits ini, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah?

Dalam hadits lain, Rasulullah s.a.w bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)

Renungkanlah sabda baginda, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut isterinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap orang yang engkau lakukan ikhlas karena Allah? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang terlalu amat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.

Sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”
Rasulullah s.a.w bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)

Betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk mendapat surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)

Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim? Dan sebaliknya amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.

Apakah buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas?. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah s.a.w), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83).

Buah lain yang akan diperolehi oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh yang demikian apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka suluhlah diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

Allah menjadikan manusia untuk beribadah dan memperhambakan diri kepadaNya. Ini jelas dari firman Allah s.w.t. yang bermaksud "Tidak aku menjadikan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepadaku".

Keikhlasan beribadah seseorang kepada Allah adalah bertolak dari niat seseorang itu mengerjakan ibadah tersebut. Ini jelas sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah di dalam hadisnya yang bermaksud: "Sesungguhnya segala perbuatan yang dilakukan itu dengan niat dan sesungguhnya tiap-tiap manusia apa yang diniatkannya maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasulnya dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ia ingin memperolehinya atau kepada perempuan yang hendak dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ia inginkan".

Ibadat itu perlu kepada keikhlasan sebagaimana ibadat-ibadat lain yang dikerjakan kerana keikhlasan hati dalam mengerjakan ibadah adalah menjadi syarat penerimaan ibdah itu oleh Allah s.w.t. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. Maksudnya: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kamu, Dan harta kamu dan sesungguhnya Allah melihat kepada hati dan amal ibadah kamu." Dengan ini jelas Allah melihat hati manusia untuk menilai dan menentukan amal ibadat yang sebenarnya.

Sesungguhnya ikhlas itu roh atau jiwa sesuatu amalan. Sesungguhnya sesiapa yang beramal tanpa keikhlasan di dalamnya maka amalan yang ditunaikan itu tiada mempunyai roh dan tidak diterima. Sabda Rasulullah s.a.w. Maksudnya: "Allah tidak menerima amalan melainkan amalan yang dikerjakan dengan tulus dan ikhlas baginya dan bertujuan mendapat keredaanNya"

Ia juga merupakan landasan yang kukuh di atas mana-mana orang yang melaksanakan bermacam-macam amal dan tugas kebaikan dan sifat keikhlasan itulah pokok segala kebahagiaan. Sesuatu kerja yang tidak keluar dari hati yang ikhlas nescaya tidak menghasilkan buah bahkan mungkin akan merugikan kepada diri sendiri. Orang yang bekerja tanpa keikhlasan dia bekerja hanya untuk lahir sahaja lupa kepada tujuan dan matlamat dia bekerja sedang tiap-tiap amal tanpa ikhlas pasti tidak menghasilkan pahala di sisi Allah.

Orang yang tidak mempunyai keikhlasan hati bererti tidak yang berdiri di tempat gelap tidak mempunyai lampu cahaya untuk meneranginya, tidak mempunyai sayap untuk terbang tinggi, dia bekerja hanya untuk dorongan hawa nafsu sahaja. Cara yang demikian menjatuhkan tuannya ke lembah kebinasaan dan kehinaan. Tuhan memerintahkan kita semua beramal dan beribadat dengan keikhlasan hati. Segala pengabdian diri terhadap Allah hendaklah dilakukan seikhlas-ikhlasnya dengan penuh kebenaran, keadilan, kebijaksanaan dan kesabaran. Dalam surah yang lain Allah menerangkan maksudnya: "Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk berbakti memperhambakan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan”.

Oleh yang demikian jelaslah kita bahawa Allah memerintahkan kita semua supaya mengabdikan diri kita kepadaNya dengan tulus ikhlas dengan erti kata kita kerjakan sesuatu amalan, sesuatu kerja kerana Allah bukan sekali-kali kerana sesuatu atau seseorang yang lain lebih-lebih lagi kerana sesuatu ganjaran kebendaan.

Syeikh Al Khushairi seorang pengasas Tasauf menerangkan bahawa ikhlas itu ialah mengerjakan ibadah kerana ingin memperdekatkan diri kepada Allah s.w.t. bukan kerana untuk mencari kesayangan orang atau sesuatu hal yang lain selain daripada mengtakarufkan diri kepada Allah Tuhan yang menjadikan kita.

Sifat keikhlasan hati itulah yang menjadi pedoman kepada seseorang di dalam pekerjaan atau perkhidmatan. Ianya merupakan alat yang menyampaikan cita-cita yang mulia. Orang yang bekerja dengan penuh keikhlasan hatinya tentunya tidak mudah patah atau putus harapan di tengah jalan. Tidak mudah putus asa, dia tidak akan puas hati sebelum pekerjaan yang dilaksanakannya itu berhasil sepenuhnya. Mereka di dalam bekerja teguh pendirian kuat hemah dan kemahuan, dia tidak akan tersinggung hati lantaraan celaan dan kritikan orang lain. Tidak sombong kerana menerima pujian, tidak bangga kerana dinaikkan pangkat atau mendapat harta yang banyak dan kedudukan yang baik malahan orang yang bekerja dengan ikhlas tetap terus berusaha hingga tercapai yang dicita-citakan dan tidak akan memberhentikan kerja itu walaupun akan menghadapi rintangan, halangan dan menempuh pengorbanan yang besar kerana mereka mengharapkan keredaan Allah yang tidak ada batasannya.

Dalam hubungan ini Hujjatul Islam Imam Ghazali ada berkata : "Manusia semuanya mati kecuali yang masih hidup adalah orang yang berilmu tetapi umumnya orang yang berilmu itu sedang nyenyak tertidur kecuali yang jaga adalah orang yang berilmu dan beramal. Tetapi orang yang beramal itu pula sering tergoda atau terpedaya kecuali yang tidak terpedaya hanya orang yang ikhlas tetapi ingatlah bahawa ikhlas itu berada di dalam keadaan yang amat sulit ibarat telur di hujung tanduk"

Demikian caranya Imam Ghazali memberikan gambaran yang tepat terhadap sifat yang ikhlas itu dan kita harus yakin bahawa suatu amal yang dikerjakan dengan ikhlas ujudnya akan kukuh dan mestipun amal itu terpaksa juga tumbang kerana dilanda zaman tetapi kesannya tetap abadi. Oleh kerana itu sifat ikhlas di dalam beribadah amat penting dan dia merupakan senjata yang tidak luntur bagi menghadapi gangguan yang lahir dari syaitan sebagaimana firman Allah s.w.t. Maksudnya: "Iblis berkata wahai tuhanku oleh sebab engkau telah memutuskan aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang perbuatan baik di muka bumi ini dan pasti aku akan menyesatkan mereka kecuali hamba-hambaMu yang mengerjakan amal ibadat dengan penuh keikhlasan.

Untuk dijadikan contoh mengenai ikhlas ini marilah kita meninjau satu riwayat cerita di dalam hadis Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah bererti:
"Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda bahawasanya manusia yang pertama dipanggil untuk diadili di hari kiamat ialah orang yang mati syahid. Dia datang kepada Allah TuhanNya sambil dia sendiri telah mengetahui nekmat apa yang akan diterimanya. Allah bertanya kepadanya apakah amal kamu? "Jawabnya aku berperang untukmu hingga aku mati syahid". Allah berkata kepadanya "engkau bohong, engkau berperang agar manusia mengatakan engkau seorang gagah, berani dan engkau sudah dikatakan begitu sebagaimana yang engkau kehendaki. Kemudian orang itu dihela masuk ke neraka.

Adapun yang menuntut ilmu dan telah mengajar pula serta menjadi pembaca Al-Quran, orang ini dibawa ke pengadilan Tuhan di hari kiamat sedang dia sendiri telah mengetahui nikmat yang akan diterimanya. Dihadapan Tuhan ditanya apa amalmu jawabnya "aku banyak membaca Al Quran" Berfirman Allah kepadanya engkau bohong! Engkau menuntut ilmu itu agar dikatakan orang engkau seorang yang alim, engkau membaca Al-Quran itu supaya dikatakan orang seorang Qari dan yang demikian itu telah engkau dikatakan orang kemudian orang itu pun dihela masuk ke dalam neraka.

Adapun seorang lelaki yang telah mendapat kelapangan rezeki sebahagian hartanya dibahagikan kepada orang lain kemudian orang itu pun dibawa menghadap Allah untuk dibicarakan dan dia sendiri telah mengetahui nikmat yang akan diterimanya. Di hadapan Allah dia ditanya apa kerjamu dia menjawab "aku telah membelanjakan hartaku kepada jalan yang engaku redai dan itu telah aku kerjakan kerana engkau". Allah telah berfirman kepadanya engkau berbohong engkau berbuat demikian itu adalah supaya dikatakan orang engkau seorang pemurah sedangkan yang demikian itu telah dikatakan orang kemudian orang itu pun dihela masuk ke dalam api neraka. Demikianlah riwayat hadis tiga jenis orang beramal tidak ikhlas. Amalan mereka ditolak tidak diterima oleh Allah dan akibatnya mereka dicampakkan ke dalam api neraka.

Kesimpulan apa yang telah diperkatakan tadi ialah bahawa beramal dan beribadah perlu kepada keikhlasan dan kejujuran dan untuk menjadikan amalan itu agar kekal abadi sempurna lahir dan batin perlulah kita lakukan segala amalan dengan tulus dan ikhlas semata-mata kerana Allah Taala tanpa mengira waktu dan mudah-mudahan dapat diterima oleh Allah s.w.t. dan dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepadaNya.

No comments:

Post a Comment

Sypmtom Checker

loading...